Daftar Nama Dusun di Desa Bongas

  1. Kadusan 1 (Satu); Dusun Bongas meliputi Dukuh Mingkrik, Dukuh Jambean, Dukuh Sempu, Dukuh Larangan, Dukuh Karangsari, Dukuh Sriyem, Dukuh Saga, Dukuh Lumpur Barat, Dukuh Kali Pucung, dan Dukuh Siranti.
  2. Kadusan 2 (Dua); Dusun Bantarsari meliputi, Dukuh Weden, Dukuh Kebon Kopen, Dukuh Embel, Dukuh Lumpur Timur, Dukuh Magangan, dan Dukuh Ompleh.
  3. Kadusan 3 (Tiga); Dusun Megalamat meliputi Dukuh Mbawang, Dukuh Brobahan, Dukuh Ratamanis dan Dukuh Karang Jengkol.

Dukuh Karangsari

Singkat cerita, Pada tahun 2006 di Desa Bongas terjadi bencana banjir yang menerjang rumah-rumah warga di bantaran sungai polaga (Wilayah Kadusan 1). Korban banjir tersebut berjumlah 26 (Dua puluh enam) kepala keluarga kehilangan tempat tinggalnya dan mereka disediakan lahan pekarangan di sawah legok sebagai tempat tinggal kemudian menamainya Karangsari diambil dari gabungan kata “Karang” dan kata “Sari​”.
Kata “Ka·rang”, Pe·ka·rang·an berarti tanah yang disiapkan untuk tempat tinggal sebagaimana Karang Taruna mempunyai arti tempat kegiatan (berhimpun dsb) para pemuda (remaja), sedangkan kata “Sa·ri” mempunyai arti 1 isi utama (dr suatu benda); 2 pokok isi (karangan, berita, dsb); bagian terpenting (tentang pelajaran dsb). 

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa, isi penduduk Dukuh Karangsari berasal dari eks-korban bencana banjir sungai polaga tahun 2006.

Musholla Al-Khautsar

Musholla Al-Khautsar terletak di Rt.001 Rw.003 Dukuh Weden, Dusun Bantarsari-Desa Bongas. Asal mula berdirinya musholla tersebut dikarenakan kapasitas di Musholla Nurul Huda yang waktu itu dipimpin oleh kyai Fuad Dahlan Badjuri sudah tidak muat dengan jamaah yang terlalu banyak sehingga  pada tahun 1994 warga Dukuh Weden mengadakan musyawarah untuk mendirikan tempat ibadah baru dengan dana swadaya dan menunjuk kyai Sobirin sebagai Imam, dengan dibantu oleh kyai Ahmad Taufik, kyai Purwanto, dan ustadz Ahmad Khaeruri. 

Dukuh Larangan

Asal mula dinamakan Dukuh Larangan di Desa Bongas karena jumlah penduduknya masih sedikit dan tempat tinggalnya pun jarang (Arang), bahkan pada tahun 2006, Penulis dan Cahyadi (RT.001 di Dukuh Weden) yang waktu itu mendampingi bapak Penulis sebagai seorang dukun sunat menghitung bangunan di dukuh tersebut baru berdiri 14 (Empat belas) rumah dan 1 (Satu) musholla yakni Musholla Baitul Qoror, akses jalan ke dukuh tersebut masih berupa jalan setapak, licin dan berundak karena tempatnya yang tinggi di bawah gunung greso. Berbeda dengan kenyataan sekarang ini karena pada tahun 2015 akses masuk ke Dukuh Larangan sudah dibangun melalui Dukuh Sempu sehingga kendaraan (Sepeda Motor) bisa masuk.

Dukuh Mbawang

Buah Mbawang

Asal mula adanya Dukuh Mbawang di Dusun Megalamat Desa Bongas, menurut cerita dari masyarakat dahulu di daerah itu tumbuh/ada pohon mbawang, pohon mbawang tersebut di jadikan ikon oleh masyarakat sehingga setelah menjadi perkamungan dikenal sebagai Dukuh Mbawang.  

Dukuh Jambean

Jambe (Pinang) adalah tumbuhan yang batangnya untuk pucang. Pucang biasanya dibuat untuk memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

Asal mula adanya Dukuh Jambean di Desa Bongas, menurut cerita dari masyarakat dahulu di daerah itu tumbuh/ada pohon jambe (Pinang), pohon jambe tersebut di jadikan ikon oleh masyarakat sehingga setelah menjadi perkampungan dikenal sebagai Dukuh Jambean.  

Dukuh Mingkrik

Asal mula adanya Dukuh Mingkrik di Desa Bongas menurut cerita dari masyarakat sekitar, dahulu di daerah itu tampak tinggi (Mingkrik-mingkrik) jika dipandang dari Bongas Ngisor (Ngisor artinya Bawah), sehingga disebut sebagai Dukuh Mingkrik.